Menuju Rumah Impian

Saya bisa bangga, karena saya sudah punya rumah sendiri. Dibeli saat saya masih single, dibayar kredit. Waktu itu harga rumah belum semahal sekarang, tapi ngumpulin uang DPnya juga setengah mati, sih. Musti hutang sana-sini dulu. Awal-awal bayar kreditnya juga harus hemat-hemat uang gaji. Namun setelah itu, jadi terbiasa. Waktu itu saya ambil masa kredit sepuluh tahun. Tiap hari saya berdoa ke Tuhan, supaya rumahnya cepat lunas. ”Ya Tuhan, mungkin enggak sih saya dapat sekian ratus juta untuk melunasi rumah saya, dapat hadiah undian dari bank misalnya,” begitu doa saya kalau lagi bayar kredit rumah. Habis berdoa saya ketawa-tawa sendiri. Gile, hari gini dapet undian, uang tabungan aja gak seberapa, pikir saya.  Tiap hari saya komat-kamit ke Tuhan agar bisa lunasin rumah secepatnya.

Terpikir untuk Resign

Tahun demi tahun berlalu, saya mulai bosan dengan kerjaan di kantor.  Trus mulai mikir untuk resign, istirahat trus baru cari kerja lagi.  Eh tapi…kan ada hutang rumah yang harus dibayar, wkwkwkw. Nah lho…susah deh tuh. Sempet melamar kerja di tempat lain, tapi kantornya ada di ujung berung. Pas interview ke-2, entah gimana, namun  hati saya bilang untuk menolaknya. Setelah itu saya menikah. Keinginan resign, makin kuat. Tapi lagi-lagi, kepikiran sama hutang dan yang lain-lainnya, karena saat itu, karir saya lebih mapan dari suami. Saya cuma bisa pasrah kepada Tuhan, dan bilang  ke Tuhan, ”Ya Tuhan, mungkin enggak sih saya dapat sekian ratus juta untuk melunasi rumah saya.”  Hehehehe… tetep yaaaaa.

Rejeki dari Langit

Eng ing eng…beberapa bulan kemudian, tahu-tahu kantor saya melakukan PHK besar-besaran. Beberapa redaksi ditutup atau dikurangi pegawainya. Untuk efisiensi biaya, begitu alasannya. Barang siapa yang berminat untuk di-PHK, silakan, tentunya ada uang pesangon yang cukup besar bagi yang berminat. Wuidihhhh…ini nih jawaban doa saya selama ini, dapat undian! Rejeki dari langit! Udah tahu dong, lanjutan cerita saya. Yap, saya ambil penawaran itu, walaupun harus agak-agak membujuk pimpinan saya. Dengan berat hati, beliau mengabulkannya. Terima kasih banyak, Mbak!

Sekarang, rumah saya sudah lunas. Bahagia banget rasanya, bisa megang SHM rumah sendiri. Terharuuuu….

Proses Pindahan Yang Melelahkan

Karena beberapa pertimbangan, rumah itu sekarang  dikontrak orang, sedangkan saya dan bapaknya Andra tinggal di rumah kontrakan. Hehehe… Jadi meskipun udah punya rumah sendiri, tapi kami tetap merasakan menjadi pengontrak rumah.  Kami merasakan pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Kalau masa kontrak sudah habis, bingung cari rumah kontrakan lagi. Cari yang  murah, yang bagus, yang lingkungannya oke, yang ini, yang ono. Uang yang ditabung bertahun-tahun lalu ludes untuk bayar kontrakan. Ini curcol ceritanya…hehehe. Nah,  setelah menemukan rumah kontrakan baru, masuk proses pindahan rumah. Beli kardus, container box. Angkat-angkat ini, angkat-angkat ono, sewa mobil pick-up, lalu rapi-rapi lagi di rumah yang baru.  Lalu kami  harus memulai proses adaptasi lagi dengan lingkungan yang baru lagi. Fiuhhhh….di situ kami merasa lelah.

Sebelum menikah, saya dan bapaknya Andra memang sudah sepakat untuk tinggal terpisah dari orangtua. Biar belajar mandiri, biar punya privasi.  Dan sekarang kami benar-benar merasakan susahnya. Kami belajar susahnya mengasuh anak, mengatur pengeluaran, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, belajar mengatasi masalah kami sendiri, dan  belajar bersosialisasi dengan lingkungan rumah. Tapi kalau semua itu terlewati, kami bisa tersenyum lega, leyeh-leyeh sambil tarik napas panjang. Ih, ternyata kita bisa juga, ya, Pak!

Menuju Rumah Sendiri

Dua tahun lagi rencananya, kami akan menempati rumah kami sendiri. Sambil ngumpulin uang untuk biaya renovasi yang kami yakin gak sedikit. Rumah kami memang tidak sebagus rumah yang kami kontrak saat ini, tapi…yang penting, rumah itu adalah rumah kami sendiri.
Untuk yang belum punya rumah, dan masih harus ngontrak, tetap semangat! Jangan lupa untuk selalu berdoa, karena tidak ada yang tidak mungkin untuk Tuhan. Ketuk saja hatinya dengan doa dan usahamu. Saya yakin kok, hari itu akan tiba, hari dimana kalian bisa pegang SHM rumah sendiri. Amin….

Yuk, kita tos dulu!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s