Kami, Yang Berbeda

Saya Katolik, bapaknya Andra, Islam. Andranya sendiri, apa agamanya? Nah, itu dia pertanyaannya yang banyak diajukan orang untuk saya. Mari saya ceritakan dulu, saat saya belum menikah dengan bapaknya Andra. Kami berdua memiliki konsep  bahwa kami memiliki Tuhan yang sama. Agama hanyalah sebuah media untuk dekat dengan Tuhan.  Sesederhana itu konsep kami, dan untungnya keluarga kami menerima konsep  tersebut.

Lalu kami menikah secara Katolik. Saat itu, keluarga bapaknya Andra, datang dari Jombang. Mereka mengikuti acara pemberkatan perkawinan sampai selesai. Hari itu, saya sangat terharu. Keluarga yang berbeda agama bersedia masuk dan merestui perkawinan saya. Terima kasih banyak. Teman-teman saya yang beda agama pun bersedia masuk ke gereja. Terima kasih banyak juga. Saya hanya ingin memberitahu kepada semuanya secara tidak langsung, kalau gereja terbuka untuk siapa saja, dan agama saya  sangat mencintai perbedaan.

Setelah menikah,   kami sengaja  tidak memasang simbol agama di dinding rumah kami, misalnya salib atau hiasan kaligrafi. Namun saya punya salib kecil dan rosario yang saya simpan di lemari. Bapaknya Andra punya alquran dan tasbih yang juga ia simpan. Kalau hari Sabtu atau Minggu, saya tetap ke gereja. Andra, kadang saya ajak, kadang tidak. Kalau bapaknya Andra sholat, saja ajak Andra untuk melihatnya. Sebisa mungkin, kami mengenalkan masing-masing agama kami.

Nah, balik lagi ke pertanyaan: Andra agamanya apa? Sejak bayi, Andra sudah dibaptis secara Katolik. Apakah itu serta merta membuatnya menjadi beragama Katolik? Mungkin saja. Tapi kalau suatu hari, dia memutuskan untuk mengikuti agama bapaknya, silakan saja. Sepanjang itu, membuatnya nyaman dan menjadi pribadi yang baik, kenapa tidak? Yang jelas kami orangtuanya, sebisa mungkin membimbing Andra untuk menghargai perbedaan, memiliki rasa cinta kasih yang besar, memegang teguh kejujuran, dan semua yang baik-baik.  Perjalanan kami masih  panjang untuk melakukan semua itu. Semoga kami masih diberi umur yang panjang untuk mendampingimu, Nak.

Buat pasangan yang berbeda agama, di perjalanan kita mungkin akan lebih banyak menjumpai kerikil dibandingkan pasangan yang menikah seagama. Tahu sendiri, kita hidup di Indonesia. Yowislah…orapopo. Bukankah saat kita sudah memutuskan, kita sudah tahu konsekuensi yang akan kita hadapi?  Dijalani saja semuanya dengan hati yang gembira. Kita tos dululah!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s